Habibah di Persimpangan Hidup
Sementara Hasan menjalani hukuman di Nusakambangan, kehidupan Habibah di Sigli tidak mudah. Ia harus memilih antara kembali ke kampung halamannya di Meunasah Cut Peudada atau tetap tinggal bersama ibu mertuanya di Blang Paseeh.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup, Johan Haria menyarankan Habibah berjualan sayur dan buah-buahan di pasar. Saran itu diterima, dan perlahan kehidupan Habibah mulai membaik.
Di pasar, Habibah sering mendapat bantuan dari seorang pedagang bernama Tgk Hanafiah. Seiring waktu, perhatian yang awalnya sekadar bantuan berubah menjadi perasaan yang lebih dalam.
Kedekatan keduanya semakin erat. Mereka saling membantu, saling menguatkan, dan perlahan tumbuh rasa cinta di antara keduanya.
Namun hubungan itu menghadapi satu persoalan besar. Secara hukum dan agama, Habibah masih berstatus istri Hasan Ligat yang sedang menjalani hukuman penjara seumur hidup di Nusakambangan.
Keinginan untuk membangun rumah tangga baru pun terbentur pada pertanyaan yang belum terjawab:
Apakah Hasan harus menceraikan Habibah dari balik penjara, ataukah Habibah harus mengambil langkah untuk mengakhiri ikatan pernikahan yang masih sah?
Pertanyaan itulah yang kemudian menjadi babak baru dalam perjalanan hidup Hasan Ligat, Habibah, dan orang-orang yang terlibat dalam kisah penuh pengorbanan, cinta, dan perjuangan ini.
Bersambung...