Kompas_Buss : Potensi Lae Sokhaya Mau Kita Bawa Kemana

Redaksi 04 Juli 2019 | 15:58 251
Kompas_Buss : Potensi Lae Sokhaya Mau Kita Bawa Kemana

Foto : (Ist)

 Koran Independen.co - Subulusalam - Pasca pemaparan proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) pada 28 Juni 2019 di Gedung LPSE lalu, menaui banyak kritikan dan dukungan dari berbagai pihak, macam alasan dampak positif dan negatif pun dilontarkan di media sosial maupun di kalangan masyarakat, hari ini (04 Juli 2019), giliran Kompas_buss memberikan tanggapan nya tentang rencana pemerintah kota Subulussalam dan pihak Investor untuk membangun Pembangkit listrik Tenaga Air (PLTA) di desa Paser Belo Kecamatan Sultan Daulat Kota Subulussalam. 

Komunitas pecinta sejarah budaya suku Singkil (Kompas_Buss) sangat mendukung pembangunan PLTA Lae Sokhaya, alasan mereka dikarenakan sulitnya mata pencaharian saat ini serta minimnya anggaran pendapatan daerah yang dimiliki, ini tidak terlepas akibat tidak adanya pembangunan strategis yang dapat mendongrak PAD kita, dengan adanya PLTA Lae Sokhaya kita harapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat kota Subulussalam, apalagi saat ini di Subulussalam telah banyak lulusan sarjana dan juga SMA tentunya ini akan memberikan peluang kerja bagi SDM yang berada di kota sada kata, dan tak kalah penting jika bendungan ini nantinya telah jadi, bisa difungsikan sebagai destinasi wisata dan Icon kota Subulussalam yang dapat menumbuhkan ekonomi masyarakat, salah satu contoh adalah bendungan Jatiluhur, Purwakarta Jawa Barat kini bendungan tersebut dikelilingi oleh alam yang begitu indah tempat bersantai pun disediakan dengan berbagai macam kuliner disajikan oleh masyarakat Jatiluhur.

Namun bila proyek strategis ini kita tolak lalu mau kita bawa kemana potensi alam Lae Sokhaya....? Hal ini disampaikan oleh ketua Kompas_Buss Hasmaudin Lembong, yang juga merupakan putra daerah Kecamatan. Rundeng. 

Hal senada juga disampaikan oleh Nava Arianto koordinator Aktivis Pecinta Alam Singkil Subulussalam (Akpass), ia berpendapat PLTA Lae Sokhaya terlalu dini untuk ditolak, kita selaku aktivis pencinta alam harus elegen dalam menyikapi persoalan ini, mari kita berikan ruang diskusi bila perlu kita fasilitasi undang para tokoh, akademisi, LSM dan pemerintahan terkait, jangan kita menghabiskan waktu hanya untuk bersitegang kita butuh solusi terbaik. Buat apa kita terlalu gegabah menghembuskan dampak negatif di medsos ataupun di lapangan, toh 
kajian saja belum ada, PLTA ini kan masih sebatas pengajuan, jika pun diterima izin nya, nantikan ada penyusunan AMDAL, kalau seandainya tidak menerima silahkan hadir pada sidang amdal, nantikan ada team penilai layak atau tidaknya.

Nava Rianto juga menyayangkan sikap salah satu organisasi pencinta lingkungan yang terlalu arogan mempertahankan argumennya hingga pihak yang ppun seolah olah mereka anggap tidak cinta terhadap lingkungan. Wilayah untuk dijadikan PLTA tersebut kita belum tau apakah masuk dalam kawasan konservasi atau bukan, jika pun masuk tentunya pembangunan bisa saja tetap terbangun asalkan dilakukan perubahan zonasi melalui KSDAE agar bisa dimanfaatkan, begitu juga dengan RTRW Aceh yang di dengunkan oleh pihak pecinta lingkungan, sampai saat ini Qanun RTRW masih menjadi perdebatan seperti yang disampaikan oleh Pak Taqwaddin, Ketua Ombudsman Aceh Qanun RTRW dalam tahap evaluasi perlu dilihat koherensi RTRW Daerah dan RTRW Nasional.

"Harus kita akui semua perusahaan itu memiliki resiko, namun dari banyak pembangkit listrik, PLTA merupakan salah satu yang paling ramah lingkungan, kita tidak mungkin terus menerus menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel atau  Batubara dengan harga yang mahal dan resiko nya lebih besar." Ujarnya.

Berbicara Pemanasan Global Navarianto menyarankan agar kita lebih peka terhadap HGU perkebunan kelapa sawit, yang membutuhkan lahan luas dan penebangan hutan secara masal, ini yang sangat berbahaya bagi iklim kita, berbeda jauh dengan PLTA, perusahaan listrik ini malahan lebih menjaga lingkungan nya agar air tetap selalu terjaga. Jadi tidak ada perusakan hutan sebenarnya disitu, jikalau pun ada pastinya akan ada langkah-langkah mitigasi yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk menjaga satwa di dalam nya. 

Aktivis SPMA Muzir Maha  sebelumnya sangat mendukung dengan adanya bendungan PLTA Lae Sokhaya, Muzir menyampaikan "jangan  alergilah dengan pembangunan, tidak semua berdampak negatif, semua ini toh untuk kita juga" mantan Wakil Presiden Mahasiswa STKIP BBG Banda itu juga menegaskan kembali harapan nya pada PLTA nantinya pertama kita harapkan PLN bisa swasembada energi sehingga kita tidak mesti lagi dipasok oleh Sumatera Utara, banyak pihak yang mengatakan bahwasanya kita sudah kelebihan daya, betul tapi itu merupakan pasokan dari luar Aceh,

"Aceh sendiri masih defisit energi listrik, jadi banyak yang salah paham tentang perusahaan pembangkit listrik, pengembang tugas nya hanya memproduksi dan menghasilkan daya listrik, lalu di jual kepada pihak PLN sesuai kesepakatan kontrak, ketika kita sudah memiliki pembangkit listrik dan telah mencukupi pasokan dalam daerah, energi yang tersisa bisa di jual ke daerah lain yang membutuhkan, kira-kira seperti itu." Pungkas Muzir. (Red)