Gowes Boleh, Latah Jangan !

Redaksi 09 Juli 2020 | 23:11 375
Gowes Boleh, Latah Jangan !

Mirnani Muniruddin Achmad, S.Pd.I, MA

Oleh Mirnani Muniruddin Achmad, S.Pd.I, MA
Guru MIN 13 Pidie Jaya dan Anggota FaMe Chapter Pidie Jaya

Istilah gowes seolah tak asing lagi di telinga masyarakat Aceh, Indonesia umumnya. Olahraga baru yang banyak diminati berbagai kalangan, hanya bermodalkan sepeda kita bisa ikut menekuni olahraga ini.

Ada yang memang menyukai gowes ini semenjak belum se “viral” seperti sekarang ini, namun ada juga yang gowes hanya sekedar ikut-ikutan dan gaya-gayaan.

Setelah berselancar di dunia maya untuk menemukan apa arti gowes ini sebenarnya, tapi penulis tak mendapatkan pengertian khusus mengenai gowes, hanya ada beberapa pengertian yang dikait-kaitkan dengan gowes.

Di antaranya, gowes dianggap berasal dari salah satu lagu anak-anak yang popular pada tahun 1988, lagu yang berjudul Krieng-Krieng Goes goes dinyanyikan oleh Bayu Bersaudara, liriknya memang menceritakan tentang kegiatan bersepeda di sekitar Monas.

Kata “goes goes” yang dibaca menjadi gowes gowes yang sepertinya menginspirasi masyarakat jaman now untuk  memberikan nama lain bersepeda menjadi gowes.

Semakin hari semakin banyak kita menyaksikan warga yang mulai melakukan gowes di waktu senggangnya. Pesepeda yang semakin mudah kita temui di jalanan, bahkan ada yang membuat komunitas khusus untuk menyalurkan hobi ini.

Trend ini tidak hanya menjamur di Indonesia namun juga di negara-negara besar lainnya termasuk New York dan sebagian kota besar di  China.

Bersepeda sebenarnya selain sebagai alat transportasi yang ramah lingkungan dan tidak menyebabkan polusi udara bisa juga menjadi salah satu olahraga yang banyak memberikan manfaat bagi tubuh manusia terutama untuk kesehatan jantung.

Namun, melihat fenomena sekarang, bersepeda bukan sepenuhnya dilakukan untuk benar-benar berolahraga, namun telah menjadi trend yang hanya ingin terlihat keren dan bergaya.

Seperti halnya pelanggaran yang dilakukan beberapa oknum beberapa hari ini  dianggap sangat mencoreng nama baik Nanggroe Serambi Makkah kita tercinta ini, bersepeda dengan menggunakan pakaian ketat dan tanpa berjilbab sungguh bukanlah budaya kita rakyat Aceh.

Aceh yang dikenal dengan budayanya yang menjunjung tinggi ajaran Islam. Sekilas kita pasti berpikir, seberani itukah perempuan Aceh dalam bertindak. Tidak ingatkah kita bagaimana perjuangan Rasulullah SAW dalam memperjuangkan martabat perempuan.

Dan dengan mudahnya kita rendahkan derajat tinggi perempuan itu. Seolah kita tidak punya nyali untu menjadi diri sendiri. Cara berpikir kita diatur, cara berpakaian kita juga mengikuti orang lain, bahkan yang terparah cara kita memandang dunia ini juga diatur oleh peradaban lainnya.

Tidak ada yang salah dengan hobi, apalagi hobi yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Namun yang harus kita ingat, Carilah kegiatan bermanfaat yang tidak menjatuhkan kita dalam kelalaian meninggalkan perintah Allah SWT. 
Sebagian dari kita telah terlena dan larut dalam budaya “ngikut”.

Mengikuti budaya gowes boleh-boleh saja, namun juga tidak berarti kita harus ikuti semuanya. Kita sebagai orang Islam tentu sudah tahu bahwa hal sekecil apapun sudah ada aturannya dalam Islam.

Apalagi cara berpakaian seorang perempuan yang sangat jelas sekali aturannya dalam agama Islam, bahkan ada ancaman tersendiri bagi yang tidak mau menutup aurat seperti dalam hadis Nabi Muhammad SAW yang artinya: “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya, yaitu orang-orang yang mengenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain, dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, dan (yang berjalan) berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk unta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian” (HR. Muslim).

Na’udzubillah, semoga kita dijauhkan dari golongan yang disebutkan ciri-cirinya oleh Rasulullah tersebut. Sangat-sangat disayangkan perempuan-perempuan muslimah yang masih suka berpakaian tipis dan seksi untuk dipertontonkan bagi orang banyak yang sama sekali tidak bermanfaat sama sekali kecuali hanya menjadi zina mata bagi kaum laki-laki yang melihatnya.

Hal ini juga berlaku bagi kaum laki-laki yang masih mempertontonkan auratnya didepan umum. Semakin banyak kita temui laki-laki yang bergowes riya dengan menggunakan celana pendek yang menampakkan auratnya. Mungkin ini terlihat sepele bagi yang tidak mempunyai ilmu agama yang mumpuni.

Namun sebenarnya sangat fatal akibatnya dalam agama Islam. Kata aurat yang diambil dari Bahasa Arab “aurah” yang berarti cacat atau aib, tentu saja sangat logis kita cermati bahwa Sesuatu yang apabila terlihat atau terbuka akan membuat kita malu.

Sama halnya jika ada aib kita yang terbuka tentu saja akan membuat kita merasa malu dan membuat harga diri kita jatuh. Maka sepatutnya bagi kita sebagai hamba Allah yang hanya sementara menempati dunia fana ini menutup dan menjaga harga diri yang sepatutnya kita jaga.

Sebenarnya bukan hanya kali ini kita melihat cara berpakaian orang Aceh yang sedikit demi sedikit sudah mulai menjauh dari norma-norma berpakaian Islami. Sekarang dengan mudahnya kita bisa menemukan orang tidak sempurna menutup auratnya, bukan hanya di kota-kota namun juga diperkampungan.

Baik di dunia nyata terlebih di dunia maya, apalagi sejak menjalarnya aplikasi Tik Tok yang sekarang malah menjadi aplikasi untuk ajang pamer aurat dan menari-nari di depan kamera tanpa sedikitpun tersisa rasa malu dalam hatinya.
Terakhir kita harapkan hendaknya kejadian ini bisa menjadi pelajaran  dan renungan bagi penggemar gowes khususnya.

Mari sama-sama kita menjadikan saja gowes ini menjadi trend yang berdampak baik pada lingkungan kita bukan hanya untuk sekedar bisa berfoto dan menguploadnya ke akun media sosial untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Dan ternyata ini membuat manfaat gowes itu menjadi sekedar ekspetasi yang jauh dari realita sebenarnya.

Menurut studi yang digagas oleh Brunel University London, orang yang menikmati perhatian publik ketika mereka mengunggah foto makanan sehat dan foto ketika sedang berolahraga di media sosial cenderung memiliki kelainan mental.

Sikap narsistik yang berlebihan membuat seseorang mempunyai hobi setelah melakukan kegiatan di dunia nyata kemudian mengunggah foto mengenai pencapaian hidup mereka dan berharap mendapat pujian dari warganet. Inilah dunia kita sekarang, di mana seseorang akan lebih aktif di dunia maya namun semakin menjauh dari lingkungan sekitarnya. 

Bersepeda selain merupakan olahraga yang menyenangkan dan juga menyenangkan juga bisa menjadi sebagai alternatif transportasi yang ramah lingkungan. World Health Organization (WHO) sendiri telah merekomendasikan olahraga gowes ini sebagai salah satu kegiatan fisik yang sangat baik dilakukan oleh orang tua hingga anak-anak.

Namun, yang harus kita ingat sebagai orang Aceh yang kental dengan syari’at Islamnya agar tidak lepas kontrol dalam mengikuti trend positif ini.

Tidak hanya mengikuti protokol Covid-19 tapi juga harus ingat rambu-rambu agama Islam sebagai pagar keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Bukan hanya sekedar untuk bergaya apalagi latah dalam bertindak. Wallahua’lam bisshawab.