PANGGUNG PUISI DI USIA SENJA SANG PRESIDEN, MUNGKINKAH?

Redaksi 01 Agustus 2022 | 10:33 150
PANGGUNG PUISI DI USIA SENJA SANG PRESIDEN, MUNGKINKAH?

Penyair Hasbi Burman di depan Warung Mie Kocok Mutiara. Insert: Hasbi sewaktu baca puisi di arena Piasan Raya Aceh Barat 1 di Lhok Geulumpang, tahun 1993 lalu.

Kalau tidak salah ingat, saya pertama kali bertemu dengannya pada tahun 1991. Waktu itu saya sedang diajak Kolomnis terkenal Fakhry Ali ngopi sore di kawasan Rex Peunayong. Hasbi Burman sedang bekerja sebagai tukang parkir di sekitar tempat itu. Melihat kami, Hasbi menghampiri. Bang Fakhry bertanya kepada saya dalam bahasa Aceh yang sangat sopan, "Peu Dren na meuturi ngen GebNyan?" "Han, Bang," jawab saya. "Nyoe keueh Hasbi Burman, Presiden Rex nyeng cukop terkenal," lanjutnya. 

Mendengar itu, saya langsung teringat pada Umbu Landu Paranggi, seorang penyair bohemian asal Nusa Tenggara Timur, yang yang melegenda di Yogyakarta dengan gelar Presiden Malioboro, pada tahun 1970-an dahulu. Berarti lelaki berambut kribo dengan kumis melintang seperti Bang Jampang ini adalah seorang penyair. "Tapi paken digelar Presiden Rex?" Tanya saya pada Bang Fachry. 

Sambil lalu beliau menjawab, bahwa gelar itu ditabalkan oleh Bre Redana (Don Sabdono), salah seorang wartawan Harian Kompas yang pernah bertugas di Aceh pada tahun 1980-an lalu. Bre mendeskripsikannya dengan panjang lebar di Rubrik Sosok harian tersebut yang panjangnya satu halaman penuh. Tentu tidak sembarangan Bre memilih figur Hasbi tersebut untuk diangkat ke rubik bergengsi itu di antara sekian banyak penyair terkemuka Aceh lainnya, seperti Hasyim KS, Maskirby, Udin Pelor, dan lain-lainnya.

Maka sejak itu saya mulai memperhatikannya. Rupanya Hasbi tinggal di sebuah desa kecil dekat Bandara SIM. Dia bekerja sebagai tukang parkir di kawasan Rex, Peunayong, Kota Banda Aceh. Sepekan sekali dia pulang ke rumahnya di desa yang berjarak sekitar 18 km dari kota itu. Dalam sepekan, selama 6 hari di kota dia menginap di meunasah dalam komplek Taman Seni Budaya Hamzah Fansuri, bersama para seniman bohemian Banda Aceh lainnya, seperti Din Saja dan kawan-kawan.

Di sela2 pekerjaannya mengelola parkir itulah saya melihat setiap hari dia mengambil kesempatan untuk menulis puisi-puisinya. Sambil bersandar pada tiang-tiang di emperan toko, dia menuliskan puisinya pada secarik kertas bekas bungkus rokok dengan pulpen murahan yang terselip di kantong baju dinas parkirnya. Kadang-kadang dia terpekur-pekur agak lama, sambil berdiri seperti orang bengong, untuk mencari Ilham bagi puisi-puisinya. 

Aneh memang, melihat orang terpekur sambil berdiri di tengah keramaian. Sewaktu ada mobil yang mau parkir atau mau pergi, dia segera melipat kertas bekas bungkus rokoknya itu untuk disimpan ke dalam kantong bajunya, dan segera beranjak untuk memberi aba-aba dan mengutip biaya parkir dari para pengemudi yang seringkali juga memberi bonus kepadanya. Begitulah proses kreatif Hasbi Burman menulis puisi-puisinya pada saat itu.

Beberapa waktu kemudian, sewaktu saya sedang nongkrong dengan Bang Fakhry di Rex pada sore lainnya, Hasbi menghampiri dan menyerahkan sebuah buku sambil berkata "ini buku puisi yang baru diterbitkan, ada puisi saya di dalamnya," ucapnya bangga sambil membuka halaman tempat puisi-puisinya dimuat. Bang Fachry mengambil dan membacanya. Sejenak kemudian beliau bertanya, "apa buku ini dijual?" 

"Kalau Abang mau beli boleh," kata Hasbi. "Berapa?" Tanya Bang Fakhry. "Kalau di toko harganya 15 ribu. Tapi kalau Abang mau beli terserah Abang mau bayar berapa," jawab Hasbi pasrah. Fakhry Ali mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembaran Rp 10 ribu warna ungu bergambar sultan Hamengku Buwono IX dan menyerahkan pada Hasbi. Dengan sukacita Hasbi meraihnya dan pergi dari situ untuk kembali mengelola parkir. 

Setelah membaca sejenak, Bang Fakhry menyerahkan buku itu kepada saya dan menyuruh saya untuk membacanya. Begitu saya selesai membaca beliau berkata, "kalau kita lihat puisi-puisi itu, rasanya gak percaya kita kalau dia yang tulis, kan?" Kata Bang Fakhry sambil menunjuk Hasbi yang sedang memberi aba-aba kepada para pengemudi yang sedang memarkir mobil di Rex. 

Saya mengangguk. Betul sekali, alangkah kontrasnya kualitas puisi-puisi tersebut dengan penampilan penulisnya yang lusuh menggelandang seperti bohemian itu, pikir saya. Tapi itulah faktanya. Bahwa karya tidak selalu identik dengan penampilan penciptanya, simpul saya dalam hati.

Tapi beberapa waktu kemudian saya tidak pernah melihatnya lagi mengelola parkir di kawasan Rex. Beberapa pekan kemudian saya bertemu dengannya di kantin taman seni budaya. Waktu saya tanya mengapa tidak mengelola parkir lagi, Hasbi berkata bahwa sewaktu dia sakit selama seminggu dikampung, lahan parkirnya itu diserobot orang. Ketika Hasbi kembali, orang itu tidak mau melepaskannya lagi. Akhirnya, karena tidak mau ribut-ribut, Hasbi mengalah dan membiarkan orang tersebut mengelola lahan parkir yang pernah bertahun-tahun dikelola sebagai sumber penghasilan sehari-harinya itu. 

Sewaktu diminta kesediaan saya untuk menjadi salah seorang pengurus Dewan Kesenian Aceh (DKA) periode 2000-2004, oleh Helmi Hass yang waktu itu terpilih sebagai ketua, saya meminta supaya seniman2 bohemian seperti Hasbi Burman, Udin Pelor, Din Saja, dan lain-lain, diakomodir saja sebagai pengurus juga, sehingga dapat menerima honor yang waktu itu disediakan oleh pemerintah Aceh sehingga dapat berdaya. Namun setelah kami tidak duduk di DKA lagi, mereka mulai terabaikan.

Akibatnya, sejak saat itu Hasbi mulai mengembara dari satu kantor ke kantor lainnya, dari satu toko ke toko lainnya, dan dari satu restoran ke restoran lainnya, untuk meminta belas kasihan dari orang-orang yang pernah mengenalnya. Pada awalnya mereka tidak merasa keberatan. Tapi lama-lama merasa terganggu juga, sehingga diam-diam mulai menghindarinya.

Yang paling ironis adalah sewaktu pada beberapa bulan lalu Hasbi datang ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh untuk memohon digelar suatu acara baca puisi di penghujung usia senjanya. Konon kabarnya salah seorang pejabat di lingkungan dinas tersebut justru melecehkannya. Jangankan mengabulkan permintaannya, bahkan sang pejabat dengan enteng meledeknya, bahwa kalau Hasbi membaca puisi, orang-orang bisa lari semua. Berapa mirisnya.

Beberapa hari lalu tanpa sengaja saya bertemu dengan Hasbi di depan Warung Mie Kocok Mutiara dekat Mesjid Raya Baiturrahman. Dia terlihat sangat ringkih, tua dan lemah. Kepada saya dia mengeluh bahwa bekas batu ginjalnya yang ditembak laser beberapa waktu lalu masih terasa sakit.

Dan dia juga mengatakan, seandainya ada pihak yang bersedia menggelar suatu panggung baca puisi dalam waktu dekat ini, sehingga dia bisa membacakan puisi-puisinya di penghujung senja hari tuanya, alangkah bahagianya dia. Tapi mungkinkah?

Sebenarnya beberapa waktu lalu ada 2 orang anak muda penggiat seni di Banda Aceh, yaitu Thayeb Lhoh Angen dan Muhrain, yang berinisiatif untuk menggelar panggung puisi bagi Penyair-penyair Aceh, terutama yang sudah tua-tua seperti Hasbi Burman, tapi gagal total karena organisasi kesenian tempat mereka bernaung menolaknya dengan alasan organisasi kesenian mereka itu bukanlah even organizer (EO) yang bertugas menyelenggarakan acara-acara kesenian. 

Terharu juga saya mendengar keinginan Hasbi Burman Sang Presiden Rex, si seniman fakir kota kita yang terlunta-lunta di hari tuanya. Semoga pemerintah Aceh berkenan mengabulkannya. Apakah itu oleh Pak Almuniza Kamal sebagai PJ Kadisbudpar Aceh yang baru, atau oleh Pak Achmad Marzuki selaku PJ Gubernur Aceh itu sendiri, yang berkenan untuk bermurah hati  untuk mengabulkan keinginan seorang seniman tua yang selama ini selalu kandas di tangan para bawahannya itu. [ral]