HMI Buka Wadah Diskusi Publik, Refleksi Pembangunan dan Sejahtera Pasca 14 Perdamaian Aceh

Redaksi 28 November 2019 | 08:42 65
HMI Buka Wadah Diskusi Publik, Refleksi Pembangunan dan Sejahtera Pasca 14 Perdamaian Aceh

Ist

KI- Aceh Utara. - Himpunan mahasiswa Islam cabang Lhokseumawe-Aceh utara selenggarakan diskusi publik terkait dengan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Aceh usai 14 tahun Perdamaian, yang akan berlangsung Rabu, 26/11/2019 di Aula Sekda Kota Lhokseumawe.

Diskusi publik kali ini turut menghadirkan pemateri yakni Tgk Khaidir Abdurrahman, SIP.MA merupakan mantan anggota DPR RI 2014-2019 sementara itu juga guru besar fakultas ekonomi yang juga mantan Rektor Universitas Malikussaleh Prof. Apridar SE.M.SI dan Letkol. Inf. Agung Sukoco S.H selaku Dandim 0103 Aceh utara.

M. Atar selaku ketua Himpunan mahasiswa Islam dalam sambutannya "Setelah lamanya sudah berjalan proses penandatanganan MOU sebagai bukti otentik bahwasanya Aceh sudah melakukan perdamaian, " ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, akibat dari proses Perdamaian tersebut kita bisa melihat secara langsung Perubahan yang signifikan terjadi di Aceh seperti halnya Pembangunan yanf kian terbangun demi terwujud kesejahteraan rakyat.

Akan tetapi pada saat ini, gandang MoU itu terus kita dengungkan kembali agar pemimpin kita bisa memperhatikan dan mempercantik cita-cita perdamaian.

Ia menambahkan " saat ini seiring bettambahnya pembangunan di Aceh, kami melihat kesejahteraan masyarakat tampaknya masih sedikit terwujud,oleh karena diskusi publik kali ini Harus menghasilkan satu konsep dan gagasan upaya untuk menciptakan kesejahteraan itu melalui cita-cita perdamaian., tutur Atar. 

Wakil walikota Lhokseumawe, dalam hal ini diwakili oleh Mahrat Syah dalam diskusinya mengatakan, 14 tahun damai di Aceh Lhokseumawe menjadi kawasan yang memiliki keamanan yang kondusif dan terus meninggkatkan keamanan di lingkungan pemkot Lhokseumawe. 

"Dari segi ekonomi memang saat ini terus kita lakukan pembenahan demi terwujudnya keseimbangan antara nilai perekonomian nasional," papar Mahrat Syah.

Dalam rangkaian diskusi publik, seorang pemateri yang berlatag belakang akademisi Indikator Kesejahteraan dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi yakni, harus terwujudnya masyarakat yg mengkonsumsi barang pokok, kemudian barang tambahan juga harus terpenuhi dan barang berharga juga harus terpenuhi pada setiap individu masyarakat.

"Jika hal tersebut tiga indikator terpenuhi dalam masyarakat maka terwujud kesejahteraan yang di cita-citakan oleh perdamaian Aceh," lanjutnya 

Adapun tema yang diangkat "Perdamaian Aceh guna meningkatkan Pembangunan dan kesejahteraan Masyarakat Aceh dalam bingkai NKRI" dan peserta yang hadir mencapai 150 perwakilan Mahasiswa dan Kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).