Ini Sepak Terjang John Kei Bersama Amkei di Bekasi

Redaksi 22 Juni 2020 | 21:44 2497
Ini Sepak Terjang John Kei Bersama Amkei di Bekasi

Tersangka John Kei (kemeja oranye, kaos dalam merah) (Foto: Beritasatu)

Bekasi – John Refra Kei atau yang lebih dikenal John Kei merupakan pimpinan kelompok massa yang ditakuti, terutama di kalangan debt collector. Sejak 1995, John Kei sudah menjadi Ketua Angkatan Muda Kei (Amkei), himpunan para pemuda Ambon asal Pulau Kei di Provinsi Maluku Tenggara. Ia mengklaim anggota Amkei telah mencapai belasan ribu orang.

Di Kota Bekasi terdapat tiga kelompok massa yang berasal dari Maluku Tenggara. Ketiga kelompok tersebut adalah Amkei, lalu ada Maluku Satu Rasa (M1R) Salam Sarane serta Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM).

“Di Kota Bekasi sepak terjang (pemuda Maluku) tidak mencolok, hanya beberapa peristiwa lalu saja, pada 2013 dan 2017 yang sempat heboh. Ke sini-sini, sudah enggak terdengar lagi,” ujar Sekretaris Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) Distrik Kota Bekasi, Asep Sukarya, Senin (22/6/2020).

Dia menjelaskan, pada Juni 2013 lalu Tito Refra Kei, adik John Kei, tewas ditembak pelaku misterius dari jarak beberapa meter saja. Saat itu, Tito Kei sedang nongkrong di warung kopi, tak jauh dari kediamannya, Perumahan Tytyan Indah, Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Medansatria, Kota Bekasi. Selain Tito, pemilik warung kopi bernama Ratim (70), juga tewas ditembak di bagian dada kiri.

Kemudian, perselisihan antara Ormas Forum Betawi Rempug (FBR) Kota Bekasi serta kelompok John Kei pada Maret 2017. “Sejak kejadian itu, sudah enggak terdengar lagi di Kota Bekasi. Saya enggak tahu di daerah luar Kota Bekasi,” tuturnya.

Menurutnya, GMBI Distrik Kota Bekasi telah menjalin hubungan baik dengan Front Pemuda Muslim Maluku serta M1R. “Namun dengan Amkei di Kota Bekasi, kita baru mengenal,” tuturnya.

Dia berharap, agar anggota ormas menjaga kondusifitas di wilayah Kota Bekasi, agar dapat mencegah bentrokan antarkelompok massa. “Pimpinan ormas saling bersilaturahmi, agar apabila terjadi konflik kepentingan dapat segera dicari jalan keluarnya,” imbuhnya.

Ormas apapun, kata Asep, apabila ada anggotanya yang melanggar tindak pidana, wajib diproses hukum. “Prinsip kita, tidak setuju dengan tindakan kekerasan yang dilakukan anggota ormas,” pungkasnya.

Sumber : Beritasatu
Dikutip Oleh : Bilhakki