Peringati HUT ke-15, Sukma Bangsa Adakan Webinar Nasional

Redaksi 15 Juli 2021 | 17:57 12
Peringati HUT ke-15, Sukma Bangsa Adakan Webinar Nasional

Ist

PIDIE | Koranindependen.co -- Dalam rangka memperingati hari jadinya yang ke-15 pada 14 Juli 2021, Sekolah Sukma Bangsa menggelar kegiatan webinar nasional yang bertajuk "Membangun Sinergi demi Mutu Hebat Pendidikan Aceh”. Kegiatan tersebut menghadirkan tokoh-tokoh nasional diantaranya sebagai keynote speaker Wakil Ketua MPR RI Ibu Rerie L. Moerdijat, yang juga Ketua Yayasan Sukma. Selain itu juga menghadirkan Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Bapak Prof. Komaruddin Hidayat, yang juga sebagai Ketua Majelis Yayasan Sukma.

Adapun pembicara dan panelis yang dihadirkan dalam kegiatan webinar ini adalah (1) Kepala Dinas Pendidikan Aceh Drs.Alhudri, M.M. yang diwakili oleh Kabid pembinaan SMA Bapak Hamdani, M.Pd. (2) Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng. (3) Anggota DPR-RI Aceh Komisi X Bidang Pendidikan, Perpustakaan, dan Pariwisata, Ibu Hj. Illiza Saaduddin Djamal. (4) Antropolog dan dosen UIN Ar-raniry Aceh, Bapak Reza Idria, M.A., Ph.D. Sedangkan para panelis atau penanggap dalam webinar tersebut adalah (1) Pakar dan praktisi pendidikan nasional yang juga Direktur Eksekutif Yayasan Sukma, dan (2) Redaktur Pelaksana Serambi Indonesia Bapak Yarmen Dinamika.

Diskusi yang dimoderatori oleh Fachrurrazi, M.A. ini diawali oleh pengantar dari Ibu Rerie. Beliau menyampaikan betapa Sekolah Sukma Bangsa ini didirikan berangkat dari sebuah mimpi yang dimiliki oleh Bapak Surya Paloh dalam membangun masa depan pendidikan di Aceh pascatsunami yang pada saat itu seakan sulit sekali untuk bisa dilaksanakan menjadi sebuah kenyataan.

"Dengan kemampuan dan dedikasi terutama ketulusan hati kawan-kawan semua, perjalanan 15 tahun Sekolah Sukma Bangsa mewarnai pendidikan di Aceh ini bisa kita lalui dengan selamat," ujar beliau.

Selain itu, beliau juga menyampaikan betapa pandemi yang sedang terjadi juga sangat memporak-porandakan bidang pendidikan di tengah persiapan roadmap (peta jalan) pendidikan nasional.

"Learning loss tak bisa kita hindari, adaptasi dengan kebiasaan baru harus terus dikreasikan untuk masa depan anak-anak kita. Sekolah Sukma Bangsa, dari Aceh untuk Indonesia bisa terus memberikan kontribusi di tengah masa-masa sulit ini," ujar Bunda Rerie, sapaan akrab beliau.

Kegiatan webinar dilanjutkan dengan pemaparan dari 4 nara sumber, diawali oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Aceh yang diwakili oleh Bapak Hamdani, M.Pd. selaku Kabid Pembinaan SMA. Diawal beliau menyampaikan terkait struktur dan tupoksi Dinas Pendidikan dengan cabang dinasnya yang tersebar di seluruh Aceh.

Beliau juga melanjutkan pemaparan dengan menyampaikan sinergisitas yang telah dilakukan oleh Dinas Pendidikan terhadap lembaga-lembaga lain seperti Kemenkum HAM, Kepolisian, LPMP, BAN PT, Pelaku bisnis dan wirausaha, Dinas Kesehatan, Komite Sekolah, Penguatan Keislaman, Sekolah Aman Bencana, sampai perguruan tinggi.

"Kita baru saja menandatangani MoU kerjasama dengan UIN Ar-Raniry, juga hasil SBMPTN kita masuk 8 besar nasional untuk kelulusan," ujar beliau dalam paparannya.

Pembicara kedua yaitu Rektor USK Bapak Samsul Rizal yang memaparkan kondisi fakta riil pencapaian dari segi kualitas siswa SMA yang sampai saaat ini masih sangat sedikit yang diterima di perguruan tinggi ternama di Indonesia.

" Di UI hanya 2 orang, Unpad 2 orang, ITB 3 orang, ITS 4 orang, UGM 6 orang, dst. yang saya sampaikan adalah riil, saya tidak punya kepentingan, sebaran nilai saintek kita nomor satu dari bawah di Sumatera," ujar beliau dengan sedikit nada tinggi.

Selanjutnya pembicara 3 Bu Illiza memaparkan terkait regulasi bidang pendidikan dan permasalahan pendidikan di Aceh.

"Persoalan egosektoral menjadi persoalan besar di Aceh, harus kita hilangkan," ujar beliau. Nara sumber terakhir Bapak Reza Idria, antropolog dari UIN Ar-raniry Aceh selanjutnya menyampaikan bahan diskusi dengan judul presentasi

"Pendidikan Aceh dari Bawah". "Saya memilih judul ini ada dua kemungkinan, yang pertama memang selama ini kita di Aceh selalu sering berada di bawah dari ekonomi, pendidikan, bahkan sampai tingkat serapan vaksinasi. Di sisi lain saya ingin memulai dari bawah dari hierarki pendidikan yakni di peserta didik, dan satuan pendidikan," ujar beliau dengan holistis. (Ukis)