Manusia Bumi, Berjiwa Langit

Redaksi 03 September 2020 | 09:35 337
Manusia Bumi, Berjiwa Langit

Ilustrasi

Oleh Silfia Meri Wulandari, SKM,. MPH
Pelaksana Pada Rumah Sakit Ibu dan Anak Aceh dan
Wakil Sekretaris Majelis Tabligh PW ‘Aisyiyah Aceh

Tenaga medis sebagai garda terdepan dimasa pandemi Covid-19 ini terus mengalami kekurangan personil, dimana untuk menggantikan posisi tersebut adalah tidak mudah. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membentuk dan menempa seorang tenaga medis yang mumpuni di bidangnya. Merupakan nilai yang sangat tinggi dialamatkan pada keahlian yang mereka punya, sehingga  tidak dapat dikonversi dengan nilai apapun.

Mereka berjuang dengan segenap kemampuan dan keilmuan yang dimiliki masing-masing guna menyelamatkan nyawa anak manusia yang terkonfirmasi positif Corona Virus Disease-19 saat ini.

Bahkan resiko yang dihadapi adalah mereka harus mengorbankan nyawa sendiri dan atau keluarga (orang tua, istri/suami, dan anak-anak) disebabkan tertular dari melaksanakan tugas mulia tersebut.

Karena ini adalah pekerjaan yang sangat amat mulia, pahala yang besar atas dedikasi keilmuan dan loyalitas pada sesama juga integritas yang tinggi pada almamater, mampu menyemangati dan menstimulus kesembuhan pasien yang dilayani walau itu semua hak prerogatif yang diatas.

Namun begitu, mereka terus berjuang bersama tenaga kesehatan lainnya, dengan harapan agar si pasien bisa menghirup udara keesokkan harinya.

Berdasarkan laporan PB IDI, jumlah dokter yang gugur terbanyak berada di Jawa Timur yakni sebanyak 25 orang dokter, kemudian Sumatera Utara 15 orang dokter, dan DKI Jakarta 14 orang dokter.

Ketua Umum IDI sudah memberikan ucapan belasungkawa khusus untuk sejawat yang telah mendahului, kata Humas PB IDI, dr. Halik Malik.

Terkait dengan banyaknya jumlah dokter yang telah syahid, ahli patologi klinis sekaligus Wakil Direktur RS Universitas Sebelas Maret, dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK,. Ph.D mengatakan bahwa, kita memerlukan sinergitas antara pemerintah dan masyarakat untuk melindungi para tenaga kesehatan.

Sebab Covid-19 yang menyerang para tenaga medis dan tenaga kesehatan lainnya tidak hanya bersumber dari rumah sakit, namun bisa juga berasal dari lingkungan masyarakat, ungkap dr. Tonang.

Dan saat ini khususnya Aceh, kita berada dalam dua kondisi yang saling beririsan, yaitu belum mampu mengendalikan penyebaran dengan maksimal (terlihat dari tampilan grafik terkonfirmasi positif Covid-19; https://covid19.go.id/peta-sebaran), namun kejenuhan masyarakat mulai beriak massif.

Kondisi ini terlihat dari aktivitas penduduk yang perlahan kembali bergeliat (disebabkan ekonomi keluarga yang harus dipenuhi), seperti sebelum adanya wabah, dan agak lengah dengan protokol kesehatan yang sudah digaungkan.

Bisa dilihat seperti keadaan sekarang adalah pada lokasi-lokasi wisata yang dipadati oleh masyarakat, warung kopi dan atau caffe dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menikmati waktu dengan duduk-duduk santai.

Dan penjaja/penjual dipasar tradisional malah seperti belum mengetahuinya (atau tidak mau tahu) terlihat dari mereka yang tidak menggunakan masker, berinteraksi jarak dekat dengan penjual lainnnya / pembeli, dan kurang memperhatikan protokol kesehatan lainnya.

Atau bisa jadi himbauan pemerintah tidak tersampaikan dengan baik ke pedagang pasar tersebut (ini menjadi tugas kita sebagai masyarakat yang peduli dengan sesama)

Dengan kondisi seperti, bukan tidak mungkin jumlah terkonfirmasi positif akan terus semakin bertambah banyak, sehingga mampu mempengaruhi kinerja tenaga medis, dan berefek pada ketersediaan APD (Alat Pelindung Diri) dirumah sakit.

Sehingga berujung pada performance pelayanan yang diberikan pada pasien. Juga berakibat fatal pada nyawa tenaga medis terrsebut. Yang akhirnya membuat masyarakat semakin resah karena kekurangan yang akan menolong pada saat mereka membutuhkan tenaga medis.

Dan kemarin di tanggal 2 September 2020 pukul 10.00 WIB, salah satu putra terbaik Aceh menjadi tenaga medis yang syahid pertama, yaitu dr. Imai Indra, Sp.An setelah berjuang melewati masa kritis nya selama 2 pekan lebih. Semoga Allah menempatkan beliau pada sebaik-baik tempat di Syurga-Nya.

Sehingga almarhum menjadi urutan ke 103 orang dokter yang telah gugur. Dan ada lebih dari 200 tenaga kesehatan yang telah terinfeksi Covid-19 tersebut.

Berikut jumlah sebaran Covid-19 (Nasional) per tanggal 2 September 2020:

  • Terkonfirmasi sejumlah 180.646 orang  ( + 3.075 kasus)
  • Dalam Perawatan berjumlah 43.059 orang (23.8% dari Terkonfirmasi)
  • Sembuh berjumlah129.971 orang (71.9% dari Terkonfirmasi)
  • Meninggal berjumlah 7.616 orang (4.2% dari Terkonfirmasi)

sumber : https://covid19.go.id/peta-sebaran

Sedangkan kondisi di Aceh sendiri per tanggal 2 September 2020 pasien terkonfirmasi positif adalah:

  • Bertambah 48 orang
  • 1.013 masih di rumah sakit dan isolasi mandiri

Berdasarkan rilis data dari Dinkes Kesehatan Aceh, penambahan kasus baru Covid-19 tersebar di tujuh (7) wilayah:

  • Banda Aceh 26 orang
  • Aceh Besar 17 orang
  • 1 orang masing-masing di Aceh Selatan, Aceh Tamiang, Nagan Raya

Secara kumulatif, Covid-19 di Aceh terbanyak di:

  • Banda Aceh 557
  • Aceh Besar 429 orang
  • Aceh Selatan 82 orang
  • Luar Daerah 98 orang
  • Aceh Selatan 82 orang

Jumlah pasien hingga tadi malam mencapai 1.696 orang

Melihat angka-angka tersebut ada rasa miris di relung hati dan perasaan yang tak menentu dirasakan, bilamana pada saat akan pulang kerumah dari beraktivitas dikantor atau dari bepergian (yang mana protokol kesehatan sudah kita terapkan) apakah kita membawa virus itu kerumah dan bisa mengenai orang rumah? Karena kita melawan sesuatu yang tak tampak (dia ada tapi tiada).

Tidak ada solusi lain yang kita jalankan adalah selain patuh dan lebih disiplin lagi pada protokol kesehatan yang sudah digaungkan oleh pemerintah, dimanapun kita berada (pakai masker, jaga jarak, rajin cuci tangan, etika bersin & batuk).

Dan tak ketinggalan yaitu berusaha mengkonsumsi makanan yang sehat (cukup buah & sayur), stop merokok, minum suplement/jamu, olah raga, lebih mendekatkan diri pada-Nya (karena sebaik-baik penolong & pemberi kesembuhan adalah Allah SWT).

Dan yang pastinya harus diciptakan rasa dan suasana bahagia agar tidak mudah panik, yang mampu memicu adrenalin sehingga bisa menghambat produktifitas imun tubuh.

Sepenuhnya kita dukung program pemerintah dalam rangka kegiatan GEMA (Gebrak Masker Aceh) agar bisa sampai ke desa dan daerah pelosok, sembari kita beri edukasi kepada masyarakat.

Terakhir, kami ucapkan rasa terimakasih yang tak terhingga kepada para tim medis dan tenaga kesehatan lainnya, kalian adalah manusia bumi - berjiwa langit. Wallahu ‘alam.

 

Penguhujung Malam,

15 Muharram 1442H / 03 September 2020