Awal Jodoh dari Sedan Jadul

Redaksi 06 November 2020 | 09:54 19
Awal Jodoh dari Sedan Jadul

Chairul Bariah, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen

Oleh Chairul Bariah, 
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan
dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen

 

Jodoh, pertemuan dan maut adalah rahasia Ilahi,  hanya Allah yang tahu, walaupun kita sudah berusaha untuk mencari sendiri, ada yang “dijodohkan”,  yang terpaksa jadi jodoh, bahkan jodoh yang didapat dari media sosial atau iklan. Manusia hanya mampu berusaha namun Allah yang menentukan segalanya.

Kisah dari perjuangan sahabat saya untuk mendapatkan jodoh sedikit unik. Diawali dengan perkenalan orang ketiga dalam bahasa Aceh sering disebut “seulangke”  melalui radio HT, kebetulan saat itu saya sedang mencari satu unit kendaraan roda dua, maka kami  membuat perjanjian bertemu di suatu tempat.

Dalam diskusi  antara saya, dua orang sahabat  dan calon penjual mobil  sedan jadul yang ingin saya beli, sang sahabat langsung menemba, “tolong cari jodoh untuk saya, pasti di tempat kerja banyak yang masih single, umur saya sudah hampir kepala empat, teman saya sudah punya anak, saya sudah mencoba mencari tapi selalu gagal, bahkan pernah sudah saya lamar dan memberikan tanda jadi tapi sayang dia lebih memilih orang lain bukan saya," ujar sang sahabat.

“Apa mungkin karena saya hitam, tidak ganteng atau pekerjaan yang biasa saja?, bertubi-tubi sang sahabat serasa mengeluh, kami yang hadir langsung menjawab, karena belum jodoh.

Ada pepatah Aceh” meunyo hana raseuki, yang bak bibi rhett u aki”, artinya kalau  belum rezeki biarpun sudah di depan mulut akan jatuh ke kaki.

Dalam kehidupan sehari-hari tak jarang juga terjadi di hari ikatan perjanjian hidup bersama, sang pengantin membatalkan pernikahannya, bahkan orantua sudah menyebarkan undangan resepsi setelah pernikahan, akhirnya tamu yang hadir hanya menyaksikan pelaminan  bisu tanpa sang pangeran dan ratu, ini kenyataan yang pernah saya hadiri.

Cerita sahabat saya yang satu ini, dia bermaksud menjual mobilnya untuk mencari jodoh, langsung dilamar dan dinikahi. Sang “seulangke” menyambut baik niat sahabat saya, kemudian kami kembali ke kantor, layaknya seperti detektif,  mulai mendata siapa saja yang masih single.

Akhirnya pilihan tertuju pada seorang gadis manis, imut-imut yang hampir memiliki cerita yang sama, dia selalu gagal dalam rencana membina rumah tangga, kami berpikir mungkin mereka jodoh.

Tanpa menunggu lama hanya berselang waktu tiga hari, kami mempertemukan keduanya dalam acara makan siang bersama, yang sudah direncanakan oleh seulangke.

Dalam pertemuan itu kami memperkenalkan keduanya, lalu memberi kesempatan kepada mereka untuk saling mengenal. Keesokan harinya keduanya mulai ada komunikasi, dan membuat perjanjian untuk bertemu dengan keluarga masing-masing.

Sang seulangke banyak di kenal orang dengan sebutan “Abu Subra”. Dia salah seorang pimpinan di tempat saya bekerja juga berprofesi sebagai penyiar radio.

Singkat cerita, sang seulangke mengabarkan kepada saya bahwa  telah membangun sebuah mesjid karena telah menjodohkan kedua sahabat kami, rasa haru dan senang ketika keduanya menyampaikan akan melangsungkan pernikahan padahal mereka belum satu bulan bertemu, itulah jodoh yang tak disangka. Maha kuasa Allah.

Saat ini mereka telah hidup bahagia dan sudah di karuniai satu orang putra penerus keturunan. Di balik cerita itu sayapun akhirnya membeli satu unit kendaraan sedan jadul tahun 80-an, namun hanya bertahan satu tahun, karena ada kolektor sedan tua yang membelinya, saya relakan, sedan tua itu bukan jodoh saya, tapi jadi awal untuk sahabat saya mengikat perjanjian sehidup semati bersama. Selamat berbahagia.

chairulb06@gmail.com