Pada tahun ini, Bupati Aceh Barat dalam memperingati 1 Muharram 1447 Hijriah yang lalu secara resmi meluncurkan program Magrib Mengaji. Bupati Aceh Barat, Tarmizi, SP M.M resmikan secara serimonial di Masjid Agung Baitul Makmur Meulaboh.
Dalam sambutannya, Bupati Aceh Barat menegaskan pentingnya momentum Tahun Baru Islam sebagai titik balik bagi masyarakat untuk memperbaiki akhlak serta memperkuat pelaksanaan syariat Islam.
Beliu menyampaikan bahwa program Maghrib Mengaji ini perlu kita laksanakan secara seksama karena bagian dari amanat Instruksi Gubernur Aceh dan hasil kesepakatan para ulama Aceh. Salah satu poin utama dalam program ini adalah menghidupkan kembali budaya membaca Al-Qur’an di waktu Magrib.
Bupati Tarmizi. MM, menyayangkan bahwa saat ini lantunan ayat suci sudah jarang terdengar, tergantikan oleh suara gawai dan tayangan yang kurang mendidik. Kita ingin setelah Magrib terdengar lantunan ayat suci di seluruh rumah, surau, dan masjid di kampung-kampung. Dari sinilah insya Allah cahaya dan rahmat Allah akan turun. Beliu juga menyoroti pentingnya memakmurkan masjid, khususnya dalam pelaksanaan shalat Magrib dan Isya berjamaah. Target pemerintah adalah meningkatkan kehadiran jamaah sehingga penuh dalam Masjid. Kita bandingkan kondisi saat ini yang masih belum apa yang kita harapkan.
Selain menghidupkan budaya mengaji, Bupati turut menginstruksikan agar kegiatan keislaman di tingkat gampong diadakan secara rutin minimal dua kali sebulan. Kegiatan tersebut bisa berupa pengajian, tausiyah, atau diskusi kitab guna memperkuat literasi agama masyarakat.
Kita patut mendukung dan menyahuti program yang baik ini, sebagai langkah memperbaiki budaya dalam masyarakat kita untuk selalu membaca Alquran itu perlu di syiarkan setiap rumah umat Muslim di Aceh Barat.
Pembinaan dalam Rumah Tangga
Saat ini kehidupan para remaja, dan para pemuda kita telah sampai kepada dalam tatanan kerawanan krisis yang paling parah dan merisaukan kita semua saat ini, baik krisis moralitas, pemakaian narkoba, dan lainnya. Keprihatianan kita saat ini telah membawa sebuah keresahan dalam masayarkat, baik keresahan pada malam hari, ketakutan dan ketidaknyamanan kita dalam kehidupan bermasyarakat.
Fenomen kehidupan para remaja kita hari ini adalah sebuah tanggung jawab dan tantangan bagi kita semua, baik sebagai pendidik, orang tua, pemerintah, sekalipun masyarakat luas. Sebagai pendidik bagaimana membina, mendidik para anak didiknya untuk dapat menerima ilmu pengetahuan (Knowledge) yang ditransferkan kepadanya, sehingga mereka dapat mengamalkan dan melaksanakan dengan sebaik-baiknya sekaligus sebagai keteladanan yang harus mereka ikuti dan teladani.
Seorang Guru Besar yaitu Prof . Dr. Zakiah Darajat, menulis dalam buku beliu adalah anak sejak dini dibekali dan ditanamkan nilai-nilai agama (Ad-Din) dalam jiwa mereka, sehingga dalam pertumbuhannya mereka mampu akan membawa ke arah yang positif dan terarah. Nilai-nilai ajaran Agama yang ditanamkan sejak dini kepada para anak-anak, merupakan bagian dari unsur kepribadiannya, dan akan bertindak dan bersikap sebagai filter dalam menghadapi segala keinginan dan dorongan yang timbul.
Dengan keyakinan agama itu mereka akan mengatur tingkah laku dan sikapnya secara otomatis dari dalam, mereka akan takut melakukan yang dilarang dalam ajaran Islam, aplikasi iman dalam jiwanya tidak akan melakukan dan melanggar ketentuan Allah Subhanawataala dan norma-norma hukum dalam masyarakat.
Keluarga adalah sebagai madrasah awal dalam pembentukan suasana hidup dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang dalam keluarga telah menemukan suasana keagamaan dan melaksanakan nilai-nilai Ilahiyah, hidup penuh dalam kasih sayang orang tua dan sopan santun, maka tindakannya itu akan membawa kepada pengalaman yang mereka lihat dari kehidupan dalam keluarga, masyarakat dan Sekolah. Secara kacamata Agama anak itu berkembang menurut didikan orang tuanya, orang tua yang bijak tentu mengarahkan anaknya ke arah yang lebih baik dan punya karakter, dalam sebuah Hadits, Rasulullah Shallallah alaiwasallam menjelaskan : “Setiap anak yang dilahirkan adalah suci tetapi orang tuanyalah yang membawa anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”. (Al-Hadits).
Dari kontek Hadits di atas patut kita cermati secara ekplisit bahwa eksistensi orang tua dalam mendidik anaknya sangat terpatron kepada arah yang dibawa oleh orang tuanya. Filosof Islam Ibnu Al-Jauzi dalam bukunya “Ath-Thib Ar-ruhani” menuliskan fokusnya terhadap pembentukan jiwa anak, serta pendidikan budi pekerti yang harus dilakukan mulai di dalam keluarga. Bila anak-anak dibiarkan secara bebas akan membawa kehidupan yang kurang baik, sehingga sulit untuk mengembalikan kepada kebiasaan yang bermoral dan berkarakter.