Pahlawan, Politik Ingatan, dan Rebutan Legitimasi

Antara Soekarno, Soeharto dan Daud Beureueh

12 Nov 2025 - 15:05
Yusrizal Ibrahim Lamno, Warga Banda Aceh yang Peduli pada Kemaslahatan Bangsa (Foto: Ist.)
3 dari 3 halaman

Menentukan pahlawan berarti menentukan versi kebenaran. Dan di negeri yang ingatan kolektifnya rapuh, sejarah sering kali bukan ditulis oleh para pemenang, melainkan oleh mereka yang berhasil menaturalisasi narasinya.

Pada akhirnya, gelar pahlawan memang penting sebagai penghormatan negara. Tetapi yang lebih penting lagi adalah kejujuran sejarah dan pendidikan publik tentang kompleksitas para tokoh yang membentuk republik ini. Sebab pahlawan sejati tidak dilahirkan dari pemutihan kesalahan, melainkan dari keberanian kita menghadapi masa lalu tanpa rasa takut maupun dendam.

Dan barangkali, sebelum terburu-buru memberi atau menolak gelar, kita perlu bertanya: apa yang sesungguhnya ingin kita rayakan -- pengabdian, pengorbanan, kekuasaan, atau sekadar tunjangan?

(* Penulis adalah pemerhati sosial, seni, budaya, dan politik)