*MILITER INDONESIA* *KEMBALI MENANGIS*

Redaksi 24 September 2016 | 13:20 49
*MILITER INDONESIA* *KEMBALI MENANGIS*

(Aziz Ahmadi*)

 

 

_Siang itu surya berapi sinarnya_

_Tiba-tiba redup langit kelam_

 

_Hati yang bahagia terhentak seketika_

_Malapetaka seakan menyelinap_

 

_Berita menggelegar aku terima_

_Kekasih *berjuang di sana*_

_Hancur luluh rasa jiwa dan raga_

_Tak percaya tapi nyata ..._

........

 

 

Sepenggal syair lagu di atas, insyaaloh *melukiskan* perasaan kehilangan, kepiluan bahkan *raung tangisan* militer Indonesia/TNI, utamanya lapis *generasi muda* angkatan '90-an ke sini.

 

Itulah lagu *"Bing, Kapan Lagi"*, yang dibawakan langsung sang penciptanya, Titik Puspa. 

 

Siapapun boleh mengatakan, judul tulisan ini *lebai/berlebihan.* Tapi sebagai purnawirawan Jenderal, ijinkan saya mencoba mewakili *perasaan jujur* para prajurit ... seperti tangisan Titik Puspa, ketika Bing Slamet dijemput wafat.

 

Bedanya, kali ini para serdadu TNI ditinggalkan *Agus sang idola,* utk berjuang dan mengabdi di sisi seberang ...

 

*Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)* adalah *idola* sepantarannya. *Gantheng, cerdas/smart dan santun.* Di mata lapis generasi muda TNI, AHY bukan hebat karena pernah menjadi anak seorang Presiden. Di jalurnya, dia mandiri. Dia adalah prajurit, berikut segala suka dan dukanya, seperti yang lain-lainnya. 

 

Kecerdasannya, konon ... *poto copi* bahkan lebih jernih atau melampaui SBY, seniornya. Ini dibuktikan dg *3 gelar Master*, dari Perti terkemuka luar negeri ( *NTU*/Sin serta *Harvard* dan *Webster*/AS). 

 

Hebohnya, ... tiga Master itu diraih hanya dalam tempo 2-3 tahun dan di tahun yang sama. Dan ketiganya pula, lulus dengan *_summa cumlaude_* dengan IPK tertinggi. 

 

Menurut Panglima TNI, Agus merupakan salah satu prajurit, yang sedang *dipersiapkan* dan *digadang-gadang*, menjadi kader utama pimpinan militer/TNI, di masa depan. 

 

Persimpangan atau lompatan jalur pengabdian prajurit (dari militer ke politik), seperti yang dilakukan AHY ini, sesungguhnya *tidaklah aneh-aneh* amat. Keputusan besarnya menjadi terasa aneh, justru karena keterkejutan dan kemasygulan kita saja.

 

Beritanya, memang tiba-tiba. Begitu mendadak. Menggelegar bak halilintar menyambar-nyambar. 

 

Jagat militer, mungkin bagaikan *kampanye* Ki Dalang, saat *goro-goro* manjing wanci : 

 

Sangsoyo dalu araras ... katon abyor lintang kumedap ... ooooo ... langit kelap-kelip (byar-pet/on-off) ... mendhung gemulung ... bledhek nyampar nyandhung ... udan deres koyo pinusus ... peteng ndhedhet lelimengan ...

 

Di lain waktu dan tempat - tentu kita sangat kenal dengan *Jhon F Kennedy (JFK)*. Dialah Presiden ke 35 AS, yang berkuasa amat singkat. Dia berkuasa hanya 3 tahun (1961-1963) karena wafat oleh penembak misterius. Akan tetapi, nama dan legasinya, menjadikan JFK seorang Presiden paling dikenang oleh masyarakat AS.

 

*Maaf ... saya tidak sedang mensejajarkan AHY dg JFK.* Saya hanya ingin membantu mengurangi kemasygulan diri ini, sekaligus memastikan, *langkah Agus tidaklah salah ...*

 

Walaupun Agus *terbata-bata saat pamitan kepada TNI almamaternya,* Agus tidak sedang *menyesali* keputusan besar dan langkah yang telah diambilnya. Apalagi, Agus tengah dengan bodohnya merintis jalan *bunuh diri*. 

 

*AHY sama dengan JFK,* yang mengakhiri dinas militernya dengan pangkat Letnan. Spt Agus, JFK sudah lebih dulu pamit dari militer, untuk menyeberangi samudera politik, sekembalinya dari penugasan di Samudera Pasifik.

 

Agus, sejatinya *menapaktilasi* JFK, ...

Semoga Agus Harimurti Yudhoyono, sama bahkan lebih gemilang lagi, seperti makna dan doa yang terkandung dalam namanya.

 

*Selamat Jalan Prajuritku ... Doa kami menyertaimu ...*

 

*"Jangan pernah pergi mencari, ... tapi kembalilah membawa ... kemenangan". Kemenangan Rakyat Jakarta, yang rindu akan kesantunan, moralitas dan kecerdasan dlm kepemimpinan ...*

 

.......

_Kapan lagi kita kan bercanda_

_Kapan lagi bermanja_

_Kapan lagi *latihan* bersama lagi_

_Kapan, ... oh kapan lagi_

 

_Tiada hari seindah dulu lagi_

_Tiada mungkin kembali_

_Tiada nama seharum namamu lagi_

_Tiada ... tiada *Agus* lagi_