Inilah wilayah yang selama puluhan tahun harus membayar mahal akibat kondisi geografisnya. Jarak antardaerah mungkin tidak terlalu jauh jika diukur dengan garis lurus, tetapi menjadi sangat panjang ketika harus ditempuh melalui jalan berliku yang memotong pegunungan. Waktu perjalanan berjam-jam bukanlah pengecualian, melainkan kenyataan sehari-hari. Dalam perspektif ekonomi, kondisi ini menciptakan biaya logistik yang tinggi. Dalam perspektif administrasi, ia memperlambat pelayanan publik. Dalam perspektif sosial, ia memperlebar kesenjangan pembangunan.
Karena itu, gagasan Provinsi BARSELA bukanlah ambisi politik segelintir orang. Ia merupakan konsekuensi logis dari struktur ruang yang memang berbeda dengan kawasan lain di Aceh.
Sayangnya, dalam berbagai diskusi, masih ada pandangan yang memisahkan Kota Subulussalam dan Kabupaten Aceh Singkil dari kawasan barat-selatan. Pandangan tersebut sulit dipahami apabila menggunakan pendekatan geografi dan konektivitas wilayah. Kedua daerah itu berada pada koridor pesisir barat-selatan, menghadapi tantangan infrastruktur yang serupa, memiliki hubungan ekonomi yang erat dengan kawasan pantai barat, dan merasakan hambatan pelayanan akibat jarak terhadap pusat pemerintahan provinsi.
Memisahkan Subulussalam dan Aceh Singkil dari desain BARSELA justru akan menciptakan fragmentasi baru yang bertentangan dengan logika pembangunan kawasan. Sebaliknya, memasukkan keduanya akan membentuk satu kesatuan wilayah yang lebih utuh, mulai dari pesisir hingga kawasan hinterland, sehingga perencanaan jalan, pelabuhan, logistik, perdagangan, pendidikan, kesehatan, hingga mitigasi bencana dapat dirancang secara terpadu.
Mereka yang menolak pemekaran sering menggunakan dalih menjaga keutuhan Aceh. Namun, persatuan tidak boleh dimaknai sebagai sentralisasi yang memaksa semua wilayah mengikuti logika pembangunan yang sama. Persatuan justru akan semakin kokoh apabila setiap kawasan memperoleh akses pelayanan yang setara sesuai karakter geografisnya.
Yang perlu dijaga adalah kesatuan Aceh sebagai identitas dan rumah bersama, bukan mempertahankan model administrasi yang semakin sulit menjawab tantangan pembangunan. Desentralisasi bukanlah ancaman terhadap persatuan. Ia adalah instrumen untuk menghadirkan negara lebih dekat kepada masyarakat.
Kajian akademik mengenai pembentukan provinsi baru telah memberikan dasar penting bagi diskusi ini. Yang lebih penting lagi adalah memastikan bahwa setiap keputusan benar-benar didasarkan pada analisis kapasitas fiskal, potensi ekonomi, tata ruang, pelayanan publik, dan kesejahteraan masyarakat. Dengan pendekatan seperti itu, perdebatan akan bergeser dari sentimen politik menuju argumentasi ilmiah.