Sudah saatnya perjuangan BARSELA meninggalkan narasi “siapa yang paling dulu berjuang” atau “siapa yang paling berhak memimpin”. Rakyat tidak membutuhkan kompetisi ego. Mereka membutuhkan jalan yang lebih baik, pelabuhan yang lebih layak, rumah sakit yang lebih dekat, sekolah yang lebih berkualitas, dan birokrasi yang dapat dijangkau tanpa harus menghabiskan waktu seharian melintasi pegunungan.
Jika tujuan akhirnya adalah memperpendek jarak antara pemerintah dan rakyat, maka memasukkan Subulussalam dan Aceh Singkil ke dalam desain Provinsi BARSELA bukanlah pilihan politik semata. Ia merupakan konsekuensi dari kesatuan bentang alam, kesamaan tantangan pembangunan, serta kebutuhan membangun kawasan barat-selatan secara utuh.
Geografi telah berbicara dengan sangat jelas. Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah BARSELA diperlukan, melainkan apakah para pengambil kebijakan berani mendengarkan suara geografi, atau tetap membiarkan keputusan-keputusan strategis dikalahkan oleh kalkulasi politik jangka pendek.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak hanya mengingat siapa yang mempertahankan status quo. Sejarah juga mencatat siapa yang berani membangun tata kelola yang lebih adil bagi seluruh rakyat Aceh.